Mati di dalam Islam
Mengenai ayat “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”
merupakan perintah Allah agar kita hendaknya mati dalam agama Islam.
Karena Allah tidak menerima agama selain Islam, sebab hanya Islamlah
agama yang diridhoi-Nya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah adalah Islam.
Barangsiapa yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya
dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”
Firman-Nya lagi :
“Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah
kucukupkan atasmu nikmatku dan telah kuridhoi bagimu Islam sebagai
agamamu.”
Lantas jika Allah memerintahkan agar mati di dalam Islam, padahal Dia
telah berfirman Engkau tidak mungkin memberi hidayah kepada orang yang
engkau cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang
Dia kehendaki. Bagaimanakah ini?. Sesungguhnya manusia tidak dapat dan
tidak mampu membuat dirinya mati di dalam Islam, tetapi Allahlah yang
memberikan jalan baginya. Adapun tahapan-tahapan yang seharusnya
dilakukan adalah sebagai berikut :
- Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Berdoa kepada Allah untuk mewafatkannya dalam agama Islam dan dalam keadaan husnul khotimah.
- Bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam.
- Takut mati dalam keadaan suul khotimah.
Di dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub AS berdoa :
“Kamu (Allah) adalah penguasa di dunia dan akherat, matikanlah aku
dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang
sholeh”
Padahal setiap Nabi adalah maksum dan pasti mati dalam keadaan Islam.
Demikian pula diceritakan bahwa para tukang sihir Fir’aun yang bertobat
berdoa :
“Ya Allah, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai muslim.”
Begitu juga wasiat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS kepada anak-anaknya :
“Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan kepadamu agama Islam, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”
Begitulah cara Allah mengajar dan mendidik Nabi-Nabi-Nya dan para sholihin.
Hendaknya manusia berusaha untuk menjaga dan memperkuat keislamannya
dan senantiasa taat pada perintah Allah. Barangsiapa yang menggampangkan
perintah Allah, dikhawatirkan ia kelak mati suul khotimah. Juga
hendaknya ia menjauhi maksiat dan dosa karena hal tersebut melemahkan
dan merendahkan keislamannya, membuat goyah asas-asas Islam sehingga
tercabut darinya, sebagaimana firman Allah :
“Kemudian akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah
azab yang pedih karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan
mereka selalu menolaknya.”
Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakron berkata :
“Barangsiapa yang menggampangkan adab (Nabawi) suatu ketika ia akan
meninggalkan adab dan menggampangkan sunnah. Barangsiapa yang
menggampangkan sunnah, suatu saat ia akan meninggalkan sunnah dan
menggampangkan fardhu. Barangsiapa yang menggampangkan fardhu,
dikhawatirkan ia akan mati dalam keadaan tidak membawa iman.”
Hendaknya kita terus-menerus berdoa agar mati dalam keadaan husnul khotimah, sebagaimana yang diajarkan :
“Yallah bihaa, yallah bihaa, yallah bi husnil khotimah”
karena syaithon akan berkata :
“Aduh celaka, orang yang memohon husnul khotimah itu telah mematahkan
tulang punggungku. Aduh celaka, kapan ia mau membangga-banggakan
amalnya?. Aku khawatir ia mengetahui tipu dayaku.”
[Disarikan dari Nashoih Diniyyah, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]
Mutiara Hikmah Nashoih Diniyyah
No comments:
Post a Comment